Terapan Komputer Perbankan
Fungsi Bank menurut H.Malayu S.P. Hasibuan adalah …
- Stabilisator Moneter
- Lembaga Keuangan.
- Pencipta Uang.
- Pengumpul Dana Dan Penyalur Kredit.
- Pelaksana Lalu Lintas Pembayaran.
- Dinamisator Pertumbuhan Perekonomian.
Produk (DPK) atau Dana Pihak Ketiga
- Giro adalah simpanan rekening pihak ke 3 pada bank, yang penarikannya dapat di lakukan setiap saat, melalui cek, pemindah bukuan, dan surat perintah bayar lainnya.
- Tabungan adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat di lakukan menurut syarat tertentu yang di sepakati oleh bank yang bersangkutan, dan tidak dapat di tarik dengan cek, bilyet giro atau alat lainnya.
- Deposito
>deposito berjangka : bunga di bayar di belakang, dan tidak dapat di perjual belikan
>sertifikat deposito : bunga di bayar di depan, dan dapat di perjual belikan- Perdagangan Surat Berharga
Produk kredit yaitu produk penyaluran dana dalam bentuk kredit
Seperti:::
1. Kredit Usaha adalah kredit yang di gunakan untuk membiayai perputaran usaha atau bisnis sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang produktif, seperti usaha perdagangan, usaha industri rumah tangga, usaha jasa konsultasi, dan lain-lain. Bila Anda memiliki usaha yang prospeknya kelihatan cukup cerah, Anda bisa datang kepada bank dan mengajukan permohonan untuk bisa mendapatkan pinjaman dana untuk usaha Anda.
2. Kredit Konsumsi adalah kredit yang di gunakan untuk membeli sesuatu yang sifatnya konsumtif, seperti membeli rumah atau kendaraan pribadi. Dua kredit konsumsi yang biasanya cukup laris adalah Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Kendaraan. Tentunya, karena uang itu oleh nasabah akan di gunakan untuk tujuan konsumtif, maka risiko bagi bank bahwa nasabahnya tidak mampu membayar pinjamannya akan menjadi lebih besar sehingga pada umumnya suku bunga yang di bebankan kepada nasabah untuk Kredit Konsumsi akan lebih besar ketimbang bunga kredit untuk tujuan usaha.
3. Kredit Serba Guna adalah kredit yang bisa di gunakan untuk tujuan apa saja, bisa untuk konsumsi maupun untuk usaha. Nah, salah satu produk kredit serba guna yang sering di pasarkan adalah Kredit Tanpa Agunan. Agunan adalah nama lain dari Jaminan.
Produk fee base income adalah Sebagai berikut
-transfer (kiriman uang)merupakan jasa pengiriman uang atau pemindahan uang lewat bank baik pengiriman uang dalam kota, luar kota atau keluar negeri.
-inkaso (collection) warkat-warkat bank yang berasal dari luar kota atau luar negeri.
-kliring jasa penyelesaian utang piutang antar bank dengan cara saling menyerahkan warkat-warkat yang akan dikliringkan di lembaga kliring.-safe deposit box
-Sefe Deposit Box (SDB) merupakan jasa-jasa persewaan kotak untuk
menyimpan dokumen atau surat-surat berharga.
-bank card merupakan ‘uang plastik’ yang di keluarkan oleh bank.
Kegunaanya adalah sebagai alat pembayaran di tempat-tempat tertentu seperti supermarket, pasar swalayan, hotel dan tempat lainnya.
-bank notes (valas) Merupakan uang kartal asing yang di keluarkan Dan di terbitkan oleh bank di luar negeri.
-bank garansi yaitu jaminan pembayan yang di berikan oleh bank kepada suatu pihak baik perorangan, perusahaan atau badan/lembaga lainnya dalam bentuk surat jaminan
-letter of credit merupakan salah satu jasa bank yang di berikan kepada
masyarakat untuk memperlancar arus barang (ekspor/impor) termasuk barang dalam negeri (antar pulau).
-cheque (cek wisata) cek wisata atau cek perjalanan yang biasanya di gunakan oleh mereka yang hendak bepergian atau sering di bawa oleh wisatawan.
-dan jasa lainnya.
Jenis-jenis bank adalah Sebagai berikut:::
-Bank Umum adalah Bank yang dalam pengumpulan dananya terutama menerima simpanan dalam bentuk giro dan deposito dalam usahanya terutama dalam memberikan kredit jangka pendek.
Contoh::: Bank Pembangunan, Bank Tabungan.
-Bank Perkreditan Rakyat adalah Bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
Contoh::: Bank Desa, Bank Pasar, Bank Pegawai, Lumbung Desa.
-Bank Perkreditan Rakyat (BPR)
BPR adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Kegiatan BPR jauh lebih sempit jika di bandingkan dengan kegiatan bank umum.
BPR dalam melakukan kegiatannya tidak sama dengan kegiatan yang di lakukan oleh bank konvensional (bank umum). Ada kegiatan-kegiatan yang tidak boleh di lakukan oleh BPR, yaitu:
a) menerima simpanan berupa giro,
b) mengikuti kliring,
c) melakukan kegiatan valuta asing,
d) melakukan kegiatan perasuransian.
Adapun bentuk kegiatan yang boleh dilakukan oleh BPR meliputi hal-hal berikut ini.
a) Menghimpun dana dalam bentuk simpanan tabungan dan simpanan deposito.
b) Memberikan pinjaman kepada masyarakat.
c) Menyediakan pembiayaan dan penempatan dana berdasarkan prinsip syariah.
Jenis Bank Berdasarkan Kepemilikannya
Apabila di tinjau dari segi kepemilikannya, jenis bank terdiri atas bank milik pemerintah, bank milik swasta nasional, dan bank milik swasta asing.
1 ) Bank Milik Pemerintah
Bank pemerintah adalah bank di mana baik akta pendirian maupun modalnya dimiliki oleh pemerintah, sehingga seluruh keuntungan bank di miliki oleh pemerintah pula. Contohnya Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri. Selain itu ada juga bank milik pemerintah daerah yang terdapat di daerah tingkat I dan tingkat II masing-masing provinsi. Contoh Bank DKI, Bank Jateng, dan sebagainya.
2 ) Bank Milik Swasta Nasional
Bank swasta nasional adalah bank yang seluruh atau sebagian besar modalnya di miliki oleh swasta nasional serta akta pendiriannya pun didirikan oleh swasta, begitu pula pembagian keuntungannya juga di pertunjukkan untuk swasta pula. Contohnya Bank Muamalat, Bank Danamon, Bank Central Asia, Bank Lippo, Bank Niaga, dan lain-lain.
3 ) Bank Milik Asing
Bank jenis ini merupakan cabang dari bank yang ada di luar negeri, baik milik swasta asing atau pemerintah asing. Kepemilikannya dimiliki oleh pihak luar negeri. Contohnya ABN AMRO bank, City Bank, dan lain-lain.
Jenis Bank Berdasarkan Kegiatan Operasionalnya
1 ) Bank Konvensional
Pengertian kata “konvensional” menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah “menurut apa yang sudah menjadi kebiasaan”. Sementara itu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah “berdasarkan kesepakatan umum” seperti adat, kebiasaan, kelaziman.
Berdasarkan pengertian itu, bank konvensional adalah bank yang dalam operasionalnya menerapkan metode bunga, karena metode bunga sudah ada terlebih dahulu, menjadi kebiasaan dan telah dipakai secara meluas di bandingkan dengan metode bagi hasil.
Bank konvensional pada umumnya beroperasi dengan mengeluarkan produk-produk untuk menyerap dana masyarakat antara lain tabungan, simpanan deposito, simpanan giro; menyalurkan dana yang telah dihimpun dengan cara mengeluarkan kredit antara lain kredit investasi, kredit modal kerja, kredit konsumtif, kredit jangka pendek; dan pelayanan jasa keuangan antara lain kliring, inkaso, kiriman uang, Letter of Credit, dan jasa-jasa lainnya seperti jual beli surat berharga, bank draft, wali amanat, penjamin emisi, dan perdagangan efek.
Bank konvensional dapat memperoleh dana dari pihak luar, misalnya dari nasabah berupa rekening giro, deposit on call, sertifikat deposito, dana transfer, saham, dan obligasi. Sumber ini merupakan pendapatan bank yang paling besar. Pendapatan bank tersebut, kemudian dialokasikan untuk cadangan primer, cadangan sekunder, penyaluran kredit, dan investasi. Bank konvensional contohnya bank umum dan BPR. Kedua jenis bank tersebut telah kalian pelajari pada subbab sebelumnya.
2 ) Bank Syariah
Sekarang ini banyak berkembang bank syariah.
Bank syariah muncul di Indonesia pada awal tahun 1990-an. Pemrakarsa pendirian bank syariah di Indonesia dilakukan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tanggal 18 – 20 Agustus 1990.
Bank syariah adalah bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam, maksudnya adalah bank yang dalam operasinya mengikuti ketentuan-ketentuan syariah Islam, khususnya yang menyangkut tata cara bermuamalah secara Islam.
Falsafah dasar beroperasinya bank syariah yang menjiwai seluruh hubungan transaksinya adalah efesiensi, keadilan, dan kebersamaan. Efisiensi mengacu pada prinsip saling membantu secara sinergis untuk memperoleh keuntungan sebesar mungkin.
Keadilan mengacu pada hubungan yang tidak dicurangi, ikhlas, dengan persetujuan yang matang atas proporsi masukan dan keluarannya. Kebersamaan mengacu pada prinsip saling menawarkan bantuan dan nasihat untuk saling meningkatkan produktivitas.
Kegiatan bank syariah dalam hal penentuan harga produknya sangat berbeda dengan bank konvensional.
Penentuan harga bagi bank syariah didasarkan pada kesepakatan antara bank dengan nasabah penyimpan dana sesuai dengan jenis simpanan dan jangka waktunya, yang akan menentukan besar kecilnya porsi bagi hasil yang akan diterima penyimpan. Berikut ini prinsip-prinsip yang berlaku pada bank syariah.
a) Pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah).
b) Pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal (musharakah).
c) Prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan (murabahah).
d) Pembiayaan barang modal berdasarkan sewa murni tanpa pilihan (ijarah).
e) Pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain (ijarah wa iqtina).
Dalam rangka menjalankan kegiatannya, bank syariah harus berlandaskan pada Alquran dan hadis. Bank syariah mengharamkan penggunaan harga produknya dengan bunga tertentu. Bagi bank syariah, bunga bank adalah riba.
Dalam perkembangannya kehadiran bank syariah ternyata tidak hanya dilakukan oleh masyarakat muslim, akan tetapi juga masyarakat nonmuslim. Saat ini bank syariah sudah tersebar di berbagai negara-negara muslim dan nonmuslim, baik di Benua Amerika, Australia, dan Eropa. Bahkan banyak perusahaan dunia yang telah membuka cabang berdasarkan prinsip syariah. Contoh Bank Syariah di Indonesia yaitu Bank Muamalat Indonesia.
Jumat, 18 Maret 2011
Jumat, 05 November 2010
Agung Adiprasetyo CEO Terbaik Kedua
CEO Kompas Gramedia Agung Adiprasetyo terpilih sebagai CEO terbaik kedua versi Majalah SWA. Penganugerahan CEO Terbaik ini dilakukan di Hotel Shangri-La, Jakarta, Kamis (4/11/2010) malam.
Menurut Agung Adiprasetyo, persoalan utama yang dihadapi Kompas Gramedia adalah bagaimana mempertahankan perusahaan ini langgeng hingga 100 tahun bahkan 1.000 tahun. “Jika hari-hari ini banyak perusahaan dikendalikan owner, maka jika ingin langgeng sampai 100 tahun ataupun 1.000 tahun, profesionallah yang harus mengendalikannya. Transformasi dari pemilik ke profesional ini memasuki masa-masa kritis,” kata Agung Adiprasetyo, Kamis malam.
“Saya diberi tugas melanjutkan perusahaan ini. Saya melihat Kompas Gramedia belum melalui masa kritis. Namun yang ingin saya tekankan adalah jika matahari ada pada pemilik saham, ke depan harus ditata oleh sistem. Orang boleh diganti. Namun, sistem harus tetap berjalan,” tandasnya.
Menurut Agung Adiprasetyo, persoalan utama yang dihadapi Kompas Gramedia adalah bagaimana mempertahankan perusahaan ini langgeng hingga 100 tahun bahkan 1.000 tahun. “Jika hari-hari ini banyak perusahaan dikendalikan owner, maka jika ingin langgeng sampai 100 tahun ataupun 1.000 tahun, profesionallah yang harus mengendalikannya. Transformasi dari pemilik ke profesional ini memasuki masa-masa kritis,” kata Agung Adiprasetyo, Kamis malam.
“Saya diberi tugas melanjutkan perusahaan ini. Saya melihat Kompas Gramedia belum melalui masa kritis. Namun yang ingin saya tekankan adalah jika matahari ada pada pemilik saham, ke depan harus ditata oleh sistem. Orang boleh diganti. Namun, sistem harus tetap berjalan,” tandasnya.
Indonesia Butuh Pelabuhan Laut Dalam
Pemerintah telah menuntaskan cetak biru sistem logistik nasional atau Sislognas, sebuah upaya untuk menekan tingginya harga komoditas yang diperdagangkan antarpulau di Indonesia. Sebanyak 157 rencana aksi dan 29 strategi harus diselesaikan dalam waktu lima tahun mendatang, mulai 2010 hingga 2014, salah satunya adalah menyiapkan pelabuhan laut dalam waktu dekat.
"Seluruhnya harus segera diselesaikan karena dimulai tahun 2010, dan tahun 2010 sudah hampir habis," ungkap Direktur Perdagangan, Investasi, dan Kerja Sama Internasional sekaligus Ketua Gugus Tugas Kebijakan dan Kelembagaan Tim Penyempurnaan Penyusunan Cetak Biru Sislognas, Adhi Putra Alfian, di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (5/11/2010).
Menurut Adhi, Indonesia harus menentukan setidaknya dua pelabuhan strategis yang dijadikan sebagai hub (penyatu atau penghubung) bertaraf internasional untuk meningkatkan aliran barang dari dalam negeri ke pasar global. Saat ini ada 26 pelabuhan strategis yang dimiliki oleh Indonesia, dan dua hub yang perlu dipilih itu dapat diambil dari ke-26 pelabuhan strategis tersebut.
"Ada dua atau tiga pelabuhan dari 26 pelabuhan strategis sebagai gerbang nasional yang ditentukan berdasarkan tata ruang nasional," tuturnya.
Sislognas juga memfokuskan pada aspek infrastruktur lain yang perlu dikembangkan, yakni peningkatan industri angkuran feri. Ini perlu agar dapat meningkatkan kelancaran dan kapasitas lintasan pelayaran sabuk selatan, tengah, dan utara sehingga membentuk jaringan transportasi multimoda yang efisien.
Rencana aksi lain yang terkait pengembangan infrastruktur adalah revitalisasi sungai yang dapat digunakan untuk sistem transportasi. Ini dilakukan terutama di Kalimantan, baik untuk angkutan barang maupun penumpang. Target revitalisasi sungai ini harus selesai tahun 2011.
Adapun target pembangunan pelabuhan laut dalam yang baru, menggantikan Tanjung Priok, harus dilakukan mulai 2011. Dalam periode 2010-2011, Tanjung Priok sudah harus memiliki jalur kereta api barang dari kawasan Pasoso.
"Seluruhnya harus segera diselesaikan karena dimulai tahun 2010, dan tahun 2010 sudah hampir habis," ungkap Direktur Perdagangan, Investasi, dan Kerja Sama Internasional sekaligus Ketua Gugus Tugas Kebijakan dan Kelembagaan Tim Penyempurnaan Penyusunan Cetak Biru Sislognas, Adhi Putra Alfian, di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (5/11/2010).
Menurut Adhi, Indonesia harus menentukan setidaknya dua pelabuhan strategis yang dijadikan sebagai hub (penyatu atau penghubung) bertaraf internasional untuk meningkatkan aliran barang dari dalam negeri ke pasar global. Saat ini ada 26 pelabuhan strategis yang dimiliki oleh Indonesia, dan dua hub yang perlu dipilih itu dapat diambil dari ke-26 pelabuhan strategis tersebut.
"Ada dua atau tiga pelabuhan dari 26 pelabuhan strategis sebagai gerbang nasional yang ditentukan berdasarkan tata ruang nasional," tuturnya.
Sislognas juga memfokuskan pada aspek infrastruktur lain yang perlu dikembangkan, yakni peningkatan industri angkuran feri. Ini perlu agar dapat meningkatkan kelancaran dan kapasitas lintasan pelayaran sabuk selatan, tengah, dan utara sehingga membentuk jaringan transportasi multimoda yang efisien.
Rencana aksi lain yang terkait pengembangan infrastruktur adalah revitalisasi sungai yang dapat digunakan untuk sistem transportasi. Ini dilakukan terutama di Kalimantan, baik untuk angkutan barang maupun penumpang. Target revitalisasi sungai ini harus selesai tahun 2011.
Adapun target pembangunan pelabuhan laut dalam yang baru, menggantikan Tanjung Priok, harus dilakukan mulai 2011. Dalam periode 2010-2011, Tanjung Priok sudah harus memiliki jalur kereta api barang dari kawasan Pasoso.
E-business
E-business
KELOMPOK :
- Khalimah (31108113)
- Eggy kamajaya T (32108431)
- Danny akbar (30108567)
- Fadillah selvian (30108734)
- Jelang aji ismail (31108072)
UNIVERSITAS GUNADARMA
E-business untuk merujuk pada seluruh penggunaan tingkat lanjut dalam teknologi informasi, khususnya teknologi jaringan dan komunikasi, untuk meningkatkan cara organisasi melakukan seluruh proses bisnisnya.
E-business bukan hanya merupakan interaksi eksternal organisasi dengan:
– Para pemasok, pelanggan, investor,
– Kreditor, pemerintah, dan media massa
Model-Model E-Business
• B2C (Business to Consumers): Interaksi yang dimungkinkan oleh teknologi antara individu dan organisasi.
• B2B (Business to Business): Interaksi yang dimungkinkan oleh teknologi antara organisasi dengan organisasi (antar organisasi)
Jenis E-Business Karakteristik
B2C (Business to Consumers • Antara organisasi dengan perorangan
• Nilai uang yang dilibatkan lebih kecil
• Transaksi tidak sering terjadi
• Secara relatif sederhana
B2B (Business to Business):
B2G (Business to government):
B2E (Business to education): • Antar organisasi
• Nilai uang yang dilibatkan lebih besar
• Hubungan yang kuat dan berkelanjutan
• Pemberian kredit oleh penjual ke pelanggan
• Lebih kompleks
proses e_bussines
• Electronic Data Interchange (EDI): adalah protokol Standar, ada sejak era tahun 1970, untuk secara elektronik mentransfer (mengirimkan) informasi antar organisasi serta dalam berbagai proses bisnis.
• EDI:
– Meningkatkan tingkat akurasi
– Mengurangi biaya
• E-Business juga dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas aktivitas logistik lingkar luar penjual.
– Akses yang tepat waktu dan akurat atas informasi rinci tentang pengiriman
– Mengoptimalkan jumlah persediaan
– Dalam hal barang-barang atau pelayanan yang dapat digitalkan, fungsi logistik lingkar luar dapat dilaksanakan secara elektronik.
KELOMPOK :
- Khalimah (31108113)
- Eggy kamajaya T (32108431)
- Danny akbar (30108567)
- Fadillah selvian (30108734)
- Jelang aji ismail (31108072)
UNIVERSITAS GUNADARMA
E-business untuk merujuk pada seluruh penggunaan tingkat lanjut dalam teknologi informasi, khususnya teknologi jaringan dan komunikasi, untuk meningkatkan cara organisasi melakukan seluruh proses bisnisnya.
E-business bukan hanya merupakan interaksi eksternal organisasi dengan:
– Para pemasok, pelanggan, investor,
– Kreditor, pemerintah, dan media massa
Model-Model E-Business
• B2C (Business to Consumers): Interaksi yang dimungkinkan oleh teknologi antara individu dan organisasi.
• B2B (Business to Business): Interaksi yang dimungkinkan oleh teknologi antara organisasi dengan organisasi (antar organisasi)
Jenis E-Business Karakteristik
B2C (Business to Consumers • Antara organisasi dengan perorangan
• Nilai uang yang dilibatkan lebih kecil
• Transaksi tidak sering terjadi
• Secara relatif sederhana
B2B (Business to Business):
B2G (Business to government):
B2E (Business to education): • Antar organisasi
• Nilai uang yang dilibatkan lebih besar
• Hubungan yang kuat dan berkelanjutan
• Pemberian kredit oleh penjual ke pelanggan
• Lebih kompleks
proses e_bussines
• Electronic Data Interchange (EDI): adalah protokol Standar, ada sejak era tahun 1970, untuk secara elektronik mentransfer (mengirimkan) informasi antar organisasi serta dalam berbagai proses bisnis.
• EDI:
– Meningkatkan tingkat akurasi
– Mengurangi biaya
• E-Business juga dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas aktivitas logistik lingkar luar penjual.
– Akses yang tepat waktu dan akurat atas informasi rinci tentang pengiriman
– Mengoptimalkan jumlah persediaan
– Dalam hal barang-barang atau pelayanan yang dapat digitalkan, fungsi logistik lingkar luar dapat dilaksanakan secara elektronik.
Rabu, 03 November 2010
Aplikasi akuntansi
A. Pengertian Akuntansi
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi mengakibatkan terjadinya perluasan pada semua kegiatan bidang usaha. Perluasan kegiatan usaha mengakibatkan pencatatan dan standar akuntansi semakin berkembang.
Perkembangan tersebut mempengaruhi pengertian akuntansi itu sendiri. Oleh karenanya, pengertian akuntansi bergantung dari sudut mana kita melihatnya.
1.Dipandang dari sudut fungsinya
Akuntansi merupakan aktivitas jasa yang menyediakan informasi yang penting sebagai alat penilaian jalannya perusahaan. Dengan demikian, pihak-pihak yang berkepentingan atas informasi tersebut dapat membuat pertimbangan-pertimbangan agar dapat mengambil keputusan yan tepat.
2.Dipandang dari sudut kegiatannya
Akuntansi merupakan suatu proses pencatatan yang meliputi kegiatan identifikasi, pengukuran dan penyampaian informasi ekonomi.
Pengertian akuntansi berdasarkan kedua sudut pandang tersebut ternyata hampir sama denganm definisi akuntansi menurut American Accounting Association yang diterjemahkan sebagai berikut:
“Akuntansi adalah proses identifikasi, pengukuran dan penyampaian informasi ekonomi untuk memungkinkan pembuatan keputusan yang jelas dan tegas oleh pemakai informasi tersebut.”
Pengertian akuntansi bila dipandang dari sudut kegiatannya adalah meliputi proses pencatatan, penggolongan, pengikhtisaran dan penyajian laporan mengenai transaksi keuangan yang terjadi dalam suatu periode tertentu. Berdasarkan pengertian tersebut, transaksi keuangan yang terjadi selama satu periode diproses dalam beberapa tahap kegiatan yang merupakan suatu siklus.
Siklus yang terjadi dalam penyajian laporan keuangan dinamakan siklus akuntansi. Siklus akuntansi tersebut mencakup kegiatan-kegiatan berikut:
a.Pengidentifikasian
b.Pencatatan
c.Penggolongan
d.Pengikhtisaran
e.Penyusunan Laporan
Untuk lebih jelasnya makan siklus akuntansi tersebut digambarkan melalui bagan berikut ini:
B. Para Pemakai Informasi Akuntansi
Bentuk penyajian laporan keuangan dapat berupa laporan lab/rugi, laporan perubahan modal dan neraca, yang disesuaikan dengan kebutuhan pihak-pihak yang membutuhkan dan berkepentingan terhadap informasi akuntansi tersebut.
Pihak-pihak yang membutuhkan informasi dari laporan akuntansi adalah sebagai berikut:
1.Pemimpin Perusahaan, yaitu sebagai:
a.bukti pertanggungjawaban kepada pemilik perusahaan;
b.dasar pertimbangan dalam menetapkan rencana maupun strategi yang akan diterapkan pada masa mendatang;
c.alat untuk menilai pelaksanaan kegiatan perusahaan secara keseluruhan;
d.alat untuk mengukur biaya-biaya dari kegiatan perusahaan.
2.Pemilik Perusahaan, yaitu sebagai:
a.alat untuk menilai keberhasilan manajemen dalam mengelola perusahaan;
b.alat untuk menilai penambahan modal, perkiraan perolehan keuntungan pada masa mendatang.
3.Kreditur, yaitu sebagai:
a.alat untuk menentukan layak atau tidaknya perusahaan tersebut diberi pinjaman atau kredit;
b.alat untuk mengetahui seberapa besar kemampuan perusahaan tersebut untuk membayar cicilan beserta bunganya.
4.Karyawan, yaitu sebagai:
a.alat untuk melihat prospek perusahaan yang bersangkutan di masa mendatang, sebelum memutuskan untuk ikut ambil bagian dalam perusahaan tersebut;
b.alat untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memberikan gaji atau upah kepada pegawainya.
5.Pemerintah, yaitu sebagai:
a.alat untuk menentukan besarnya pajak yang dibebankan kepada perusahaan tersebut;
b.dasar bagi data statistik pemerintah untuk kepentingan perencanaan selanjutnya.
Berdasarkan uraian di atas terlihat bahwa ada berbagai kepentingan dari berbagai pihak terhadap informasi yang disajikan dalam laporan keuangan.
Perkembangan teknologi khususnya teknologi informasi, diharapkan mampu menjadi sarana atau alat untuk memudahkan pekerjaan penyelesasian siklus akuntansi.
BAB II
KOMPUTERISASI SIKLUS AKUNTANSI (STUDI KASUS)
A. Penomoran Bagan Akun
Untuk mempermudah pengaksesan suatu permasalahan (Laporan Keuangan) setiap rekening harus diberikan nomor kode. Bentuk kode yang digunakan dapat dengan banyak cara, tetapi tetap pada pengelompokkan rekening-rekening dalam lima golongan yaitu: Aktiva, Utang, Modal, Pendapatan dan Biaya.
Cara pengkodean yang digunakan pada praktek ini menggunakan metode kelompok.
Contoh:
1 1 0 1
Aktiva Aktiva Lancar Nomor Urut
Pada kode digit pertama, angka 1 menunjukkan Aktiva, sedangkan angka 1 pada digit kedua menujukkan jenis Aktiva, yaitu Aktiva Lancar. Untuk kode digit ketiga dan keempat menunjukkan Nomor Urut Kode
B. Studi Kasus
PT. Budi Luhur bergerak dalam bidang Jasa, ingin menyajikan laporan keuangan untuk periode yang berakhir 31 Desember 1995. Adapun Neraca Saldo yang dimiliki PT. Budi Luhur per tanggal 30 November 1995 adalah sebagai berikut:
PT. Budi Luhur
NERACA SALDO
Per 30 November 1995
NO.
KETERANGAN
SALDO
REK.
DEBET
KREDIT
1101
Kas
8,000,000
-
1102
Piutang Dagang
16,000,000
-
1103
Asuransi dibayar di muka
750,000
-
1104
Advertensi dibayar di muka
-
-
1105
Perlengkapan Kantor
350,000
-
1201
Tanah
-
-
1202
Gedung
10,000,000
-
1203
Akumulasi Peny. Gedung
-
1,500,000
2101
Utang Usaha
-
1,500,000
2102
Utang Wesel
-
-
2103
Utang Gaji dan komisi
-
-
3101
Modal Budi Luhur
-
25,000,000
3102
Prive Budi Luhur
2,500,000
-
4101
Pendapatan Jasa
-
57,000,000
5101
Biaya Gaji dan Komisi
35,000,000
-
5102
Biaya Sewa
4,000,000
-
5103
Biaya Advertensi
3,400,000
-
5104
Biaya Kendaraan
3,250,000
-
5105
Macam-macam biaya
1,750,000
-
5106
Biaya Perlengkapan Kantor
-
-
5107
Biaya Peny. Gedung
-
-
5108
Biaya Asuransi
-
-
85,000,000
85,000,000
Transaksi-transaksi yang terjadi selama bulan Desember 1995 adalah sebagai berikut:
Desember (1) Dibayar sewa kantor bulan Desember Rp 500.000,-
(2) Dibeli perlengkapan kantor secara kredit Rp 150.000,-
(4) Dibeli sebidang tanah yang akan digunakan untuk pembangunan gedung kantor di masa mendatang Rp 12.500.000,- Dari jumlah tersebut Rp 2.500.000,- dibayar tunai dan sisanya dibayar dengan selembar surat wesel.
(8) Diterima pembayaran dari seorang langganan yang telah menggunakan jasa perusahaan, secara kredit Rp 12.000.000,-
(11) Dikirim faktur tagihan kepada pelanggan yang telah menggunakan jasa perusahaan, secara kredit Rp 950.000,-
(15) Dibayar gaji dan komisi Rp 3.700.000,-
(20) Diterima pembayaran dari seorang pelanggan yang telah menggunakan jasa perusahaan, secara kredit Rp 4.500.000,-
(30) Dibayar macam-macam biaya Rp 155.000,-
(30) Dibayar biaya gaji dan komisi Rp 5.000.000,-
(31) Dibayar keperluan pribadi pemilik Rp 2.500.000,-
Penyesuaian yang terjadi pada tanggal 31 Desember 1995 adalah:
1.Perlengkapan kantor yang masih tersisa sampai akhir bulan sebesar Rp 150.000,-
2.Biaya advertensi yang terpakai adalah sebesar 1.900.000,-
3.Biaya depresiasi gedung ditaksir sebesar 10% dari harga perolehan
4.Asuransi dibayar di muka sebesar Rp 750.000,- adalah untuk 6 (enam) bulan terhitung mulai tanggal 1 Oktober 1995.
5.Gaji yang masih harus dibayar hingga akhir Desember 1995 adalah sebesar Rp 250.000,-
Tugas:
1.Masukkan transaksi-transaksi di atas ke dalam Jurnal Umum
2.Buatlah Buku Besar yang diperlukan
3.Buatlah Neraca Saldo Per 31 Desember 1995
4.Buat Jurnal Penyesuaian
5.Buat Neraca Lajur per 31 Desember 1995
6.Buat Laporan Keuangan yang terdiri dari :
Laporan Rugi/Laba
Laporan Perubahan Modal
Neraca
Penyelesaian:
1.Membuat Tabel Perkiraan
a.Aktifkan Sheet1, ubah nama Sheet1 menjadi Tabel Perkiraan, dengan cara didobel klik pada Sheet tulisan Sheet1.
b.Merubah nama Sheet dapat juga dilakukan dengan memilih menu Format -> Sheet -> Rename.
c.Buatlah tabel seperti dibawah ini:
2.Membuat Jurnal Umum
a.Aktifkan Sheet2, ubah nama Sheet2 menjadi Jurnal Umum.
b.Buatlah format lembar kerja seperti ini:
c.Pada Sel Nama Perkiraan (E8 pada gambar) ketikkan =vlookup(
Lalu klik sel Kode (D8 pada gambar), kemudian ketikkan Titik Koma [ ; ], kemudian klik Sheet Tabel Perkiraan, blok Isi Tabel Perkiraan, tekan F4 untuk mengunci tabel sehingga muncul tanda US Dollar [ $ ], lalu ketikkan Titik Koma [ ; ] dan selanjutnya tentukan posisi kolom dari Tabel Perkiraan yang berisi data yang akan kita ambil, yaitu posisi 2.
[Tips!] Tabel Pencarian bisa diberi nama, sehingga bersifat Absolut/Tetap, dengan cara : Blok Tabel yang ingin diberi nama, pilih menu Insert->Name->Define. Sesuai gambar, rumus menjadi =vlookup(d8;tabel;2)
d.Masukkan semua catatan transaksi yang terjadi ke dalam Sheet Jurnal Umum dengan fasilitas Data Form, dengan cara, klik salah satu isi sel Jurnal Umum, pilih menu Data->Form. Sehingga muncul tampilan seperti ini:
Masukkan semua data transaksi ke dalam Data Form, dengan klik tombol New untuk menambah record baru. Jika semua selesai dientri, klik tombol Close.
3.Membuat Buku Besar
Setelah membuat Jurnal Umum, dalam proses Pelaporan Keuangan, langkah selanjutnya adalah membuat Buku Besar untuk mengelompokkan jenis transaksi yang ada sesuai dengan Kode Perkiraan. Langkahnya adalah sebagai berikut:
a.Ubahlah nama-nama Sheet setelah Jurnal Umum. Sheet3 diubah menjadi BB Aktiva Lancar, Sheet4 diubah menjadi BB Aktiva Tetap, Sheet5 diubah menjadi BB Hutang Lancar, Sheet6 menjadi BB Modal, Sheet7 menjadi BB Pendapatan dan Sheet8 menjadi BB Biaya.
b.Aktifkan Sheet BB Aktiva Lancar, buatlah tampilan seperti di bawah ini:
c.Pada sel D4 ketikkan formula: =vlookup(F3;tabel;2) sehingga pada sel D4 muncul kata “Kas”
d.Buku Besar Kas telah selesai anda buat, sekarang untuk mengisi datanya anda harus menggunakan fasilitas Advanced Filter.
e.Pada Buku Besar Kas yang ada di sheet BB Aktiva Lancar, Klik salah satu bagian header Buku Besar Kas, pilih menu Data->Filter->Advanced Filter , bila perlu klik OK.
f.Pada kotak dialog yang muncul, pastikan pilihan Copy to another location diaktifkan. Klik kotak isian List Range, kosongkan isinya, klik sheet Jurnal Umum, blok isi Jurnal Umum beserta sebaris headernya yang terdekat.
g.Pada kotak isian Criteria Range kosongkan isinya bila perlu, data pada kotak isian ini diisi dengan cara mengeblok sel F2 dan F3 sekaligus (berisi kata “Kode” dan Nomor Kode Perkiraan buku besar kas).
h.Kotak isian Copy to, data diisi dengan cara mengeblok sebaris header pada Buku Besar Kas yang berisi Tgl, Bln, Thn, Kode, Perkiraan, Debet, Kredit.
i.Jika selesai klik OK, dan lihatlah hasilnya. Jika penempatan rumus anda benar, maka akan muncul sejumlah transaksi dari Jurnal Umum yang difilter dan dikelompokkan berdasarkan kode perkiraan yang dijadikan kriteria.
j.Lakukan hal yang sama dalam pembuatan Buku Besar lainnya. Sesuaikan Criteria Range, berdasarkan Kode Perkiraan masing-masing buku besar.
k.Selesaikan kolom Saldo Akhir yang ada di tiap Buku Besar.
4.Membuat Neraca Saldo
Dengan selesainya Buku Besar, maka Neraca Saldo dapat dibuat dengan cara:
a.Aktifkan Sheet9, ubah nama Sheet menjadi Neraca Saldo, copy data yang ada di Tabel Perkiraan untuk mendapatkan data semua Kode Perkiraan dan Nama Perkiraan.
b.Masukkan seluruh saldo akhir yang ada di setiap buku besar, ke dalam Neraca Saldo.
5.Membuat Jurnal Penyesuaian
a.Aktifkan Sheet10, ubah nama Sheet menjadi JurnalPenyesuaian. Buatlah tampilan seperti ini:
PT. Budi Luhur
Jurnal Penyesuaian
Per 31 Desember 1995
NO.
SALDO
REK.
KETERANGAN
DEBET
KREDIT
b.Masukkan data penyesuaian yang ada, seperti halnya memasukkan data Jurnal Umum.
6.Membuat Neraca Lajur
Neraca Lajur dibuat karena ada transaksi yang belum dimasukkan di akhir periode misalnya data penyesuaian.
a.Aktifkan Sheet11, ubah nama Sheet menjadi Neraca Lajur. Buatlah tampilan sebagai berikut:
b.Copy data yang ada pada Sheet Neraca Saldo kemudian pindahkan ke Neraca Lajur khususnya pada sel A7
c.Masukkan data pada lajur Penyesuaian -> Debet dengan rumus sebagai berikut:
=sumif(TabelPenyesuian;KodeNeracaLajur;KolomDebetPenyesuaian)
Catatan:
TabelPenyesuaian hanya diblok isinya saja/tanpa header
KodeNeracaLajur pada gambar misalnya sel A7
KolomDebetPenyesuaian adalah hasil blok seluruh nilai yang ada di Kolom Debet pada Jurnal Penyesuaian.
d.Masukkan data pada lajur Penyesuaian -> Kredit dengan rumus sebagai berikut:
=sumif(TabelPenyesuian;KodeNeracaLajur;KolomKreditPenyesuaian)
e.Selesaikan kolom NSPP (Neraca Saldo Setelah Penyesuaian) dengan rumus sebagai berikut:
NSPP Debet:
NSPP Kredit:
f.Gunakan fungsi IF untuk menyelesaikan kolom Rugi/Laba. Karena kode untuk Rugi/Laba memiliki kepala digit 4 (4xxx) sampai dengan digit 5 (5xxx) maka rumus yang digunakan adalah:
DEBET : =IF(kode>=4000;NSPP.Debet;0)
KREDIT : =IF(kode>=4000;NSPP.Kredit;0)
g.Menyelesaikan kolom Neraca Akhir sama dengan cara penyelesaian kolm Rugi/Laba, hanya saja logikanya dibalik dengan rumus sebagai berikut:
DEBET : =IF(kode<4000;NSPP.Debet;0)
KREDIT : =IF(kode<4000;NSPP.Kredit;0)
7.Membuat Laporan Keuangan
a.Aktifkan Sheet12, ubah nama Sheet menjadi RugiLaba
b.Copy data Nomer Rekening dan Keterangan yang ada pada Sheet Neraca Lajur untuk nilai Kode >= 4000, letakkan hasil copy ke Sheet RugiLaba.
c.Untuk data angka, masukkan dengan cara sebagai berikut:
DEBET : =vlookup(Kode;TabelNeracaLajur;KolomNSPPDebet)
KREDIT : =vlookup(Kode;TabelNeracaLajur;KolomNSPPKredit)
Catatan:
TabelNeracaLajur hanya diblok isinya saja, tanpa header
KolomNSPPDebet adalah letak kolom NSPPDebet di Neraca Lajur (kolom ke-n)
KolomNSPPKredit adalah letak kolom NSPPKredit di Neraca Lajur (kolom ke-n)
d.Data angka yang ada di Neraca lajur juga dapat dipindahkan dengan cara sebagai berikut:
Blok data angka Debet dan Kredit di kolom Rugi/Laba untuk Kode >=4000, tekan CTRL-C dan pindahlah ke Sheet RugiLaba letakkan kursor di tempat yang diinginkan, pilih menu Edit->Paste Special dan pada Option Paste, aktifkan pilihan Values, klik OK.
a.Aktifkan Sheet13, ubah nama Sheet menjadi PerubahanModal
b.Untuk Laporan Perubahan Modal, semua kata-katanya diketik sendiri, tetapi untuk angkanya bisa mengambil dari data yang sudah ada.
Contoh: Modal Awal angkanya diambil dari Neraca lajur dengan mengklik angka yang akan dicopy, tekan CTRL-C, dan hasil copy diletakkan dilokasi yang diinginkan. Begitu juga untuk data Prive dan Laba Bersih.
a.Aktifkan Sheet14, ubah nama Sheet menjadi Neraca
b.Untuk Neraca, cara mengambil datanya sama dengan penyusunan Laporan Rugi Laba.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi mengakibatkan terjadinya perluasan pada semua kegiatan bidang usaha. Perluasan kegiatan usaha mengakibatkan pencatatan dan standar akuntansi semakin berkembang.
Perkembangan tersebut mempengaruhi pengertian akuntansi itu sendiri. Oleh karenanya, pengertian akuntansi bergantung dari sudut mana kita melihatnya.
1.Dipandang dari sudut fungsinya
Akuntansi merupakan aktivitas jasa yang menyediakan informasi yang penting sebagai alat penilaian jalannya perusahaan. Dengan demikian, pihak-pihak yang berkepentingan atas informasi tersebut dapat membuat pertimbangan-pertimbangan agar dapat mengambil keputusan yan tepat.
2.Dipandang dari sudut kegiatannya
Akuntansi merupakan suatu proses pencatatan yang meliputi kegiatan identifikasi, pengukuran dan penyampaian informasi ekonomi.
Pengertian akuntansi berdasarkan kedua sudut pandang tersebut ternyata hampir sama denganm definisi akuntansi menurut American Accounting Association yang diterjemahkan sebagai berikut:
“Akuntansi adalah proses identifikasi, pengukuran dan penyampaian informasi ekonomi untuk memungkinkan pembuatan keputusan yang jelas dan tegas oleh pemakai informasi tersebut.”
Pengertian akuntansi bila dipandang dari sudut kegiatannya adalah meliputi proses pencatatan, penggolongan, pengikhtisaran dan penyajian laporan mengenai transaksi keuangan yang terjadi dalam suatu periode tertentu. Berdasarkan pengertian tersebut, transaksi keuangan yang terjadi selama satu periode diproses dalam beberapa tahap kegiatan yang merupakan suatu siklus.
Siklus yang terjadi dalam penyajian laporan keuangan dinamakan siklus akuntansi. Siklus akuntansi tersebut mencakup kegiatan-kegiatan berikut:
a.Pengidentifikasian
b.Pencatatan
c.Penggolongan
d.Pengikhtisaran
e.Penyusunan Laporan
Untuk lebih jelasnya makan siklus akuntansi tersebut digambarkan melalui bagan berikut ini:
B. Para Pemakai Informasi Akuntansi
Bentuk penyajian laporan keuangan dapat berupa laporan lab/rugi, laporan perubahan modal dan neraca, yang disesuaikan dengan kebutuhan pihak-pihak yang membutuhkan dan berkepentingan terhadap informasi akuntansi tersebut.
Pihak-pihak yang membutuhkan informasi dari laporan akuntansi adalah sebagai berikut:
1.Pemimpin Perusahaan, yaitu sebagai:
a.bukti pertanggungjawaban kepada pemilik perusahaan;
b.dasar pertimbangan dalam menetapkan rencana maupun strategi yang akan diterapkan pada masa mendatang;
c.alat untuk menilai pelaksanaan kegiatan perusahaan secara keseluruhan;
d.alat untuk mengukur biaya-biaya dari kegiatan perusahaan.
2.Pemilik Perusahaan, yaitu sebagai:
a.alat untuk menilai keberhasilan manajemen dalam mengelola perusahaan;
b.alat untuk menilai penambahan modal, perkiraan perolehan keuntungan pada masa mendatang.
3.Kreditur, yaitu sebagai:
a.alat untuk menentukan layak atau tidaknya perusahaan tersebut diberi pinjaman atau kredit;
b.alat untuk mengetahui seberapa besar kemampuan perusahaan tersebut untuk membayar cicilan beserta bunganya.
4.Karyawan, yaitu sebagai:
a.alat untuk melihat prospek perusahaan yang bersangkutan di masa mendatang, sebelum memutuskan untuk ikut ambil bagian dalam perusahaan tersebut;
b.alat untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memberikan gaji atau upah kepada pegawainya.
5.Pemerintah, yaitu sebagai:
a.alat untuk menentukan besarnya pajak yang dibebankan kepada perusahaan tersebut;
b.dasar bagi data statistik pemerintah untuk kepentingan perencanaan selanjutnya.
Berdasarkan uraian di atas terlihat bahwa ada berbagai kepentingan dari berbagai pihak terhadap informasi yang disajikan dalam laporan keuangan.
Perkembangan teknologi khususnya teknologi informasi, diharapkan mampu menjadi sarana atau alat untuk memudahkan pekerjaan penyelesasian siklus akuntansi.
BAB II
KOMPUTERISASI SIKLUS AKUNTANSI (STUDI KASUS)
A. Penomoran Bagan Akun
Untuk mempermudah pengaksesan suatu permasalahan (Laporan Keuangan) setiap rekening harus diberikan nomor kode. Bentuk kode yang digunakan dapat dengan banyak cara, tetapi tetap pada pengelompokkan rekening-rekening dalam lima golongan yaitu: Aktiva, Utang, Modal, Pendapatan dan Biaya.
Cara pengkodean yang digunakan pada praktek ini menggunakan metode kelompok.
Contoh:
1 1 0 1
Aktiva Aktiva Lancar Nomor Urut
Pada kode digit pertama, angka 1 menunjukkan Aktiva, sedangkan angka 1 pada digit kedua menujukkan jenis Aktiva, yaitu Aktiva Lancar. Untuk kode digit ketiga dan keempat menunjukkan Nomor Urut Kode
B. Studi Kasus
PT. Budi Luhur bergerak dalam bidang Jasa, ingin menyajikan laporan keuangan untuk periode yang berakhir 31 Desember 1995. Adapun Neraca Saldo yang dimiliki PT. Budi Luhur per tanggal 30 November 1995 adalah sebagai berikut:
PT. Budi Luhur
NERACA SALDO
Per 30 November 1995
NO.
KETERANGAN
SALDO
REK.
DEBET
KREDIT
1101
Kas
8,000,000
-
1102
Piutang Dagang
16,000,000
-
1103
Asuransi dibayar di muka
750,000
-
1104
Advertensi dibayar di muka
-
-
1105
Perlengkapan Kantor
350,000
-
1201
Tanah
-
-
1202
Gedung
10,000,000
-
1203
Akumulasi Peny. Gedung
-
1,500,000
2101
Utang Usaha
-
1,500,000
2102
Utang Wesel
-
-
2103
Utang Gaji dan komisi
-
-
3101
Modal Budi Luhur
-
25,000,000
3102
Prive Budi Luhur
2,500,000
-
4101
Pendapatan Jasa
-
57,000,000
5101
Biaya Gaji dan Komisi
35,000,000
-
5102
Biaya Sewa
4,000,000
-
5103
Biaya Advertensi
3,400,000
-
5104
Biaya Kendaraan
3,250,000
-
5105
Macam-macam biaya
1,750,000
-
5106
Biaya Perlengkapan Kantor
-
-
5107
Biaya Peny. Gedung
-
-
5108
Biaya Asuransi
-
-
85,000,000
85,000,000
Transaksi-transaksi yang terjadi selama bulan Desember 1995 adalah sebagai berikut:
Desember (1) Dibayar sewa kantor bulan Desember Rp 500.000,-
(2) Dibeli perlengkapan kantor secara kredit Rp 150.000,-
(4) Dibeli sebidang tanah yang akan digunakan untuk pembangunan gedung kantor di masa mendatang Rp 12.500.000,- Dari jumlah tersebut Rp 2.500.000,- dibayar tunai dan sisanya dibayar dengan selembar surat wesel.
(8) Diterima pembayaran dari seorang langganan yang telah menggunakan jasa perusahaan, secara kredit Rp 12.000.000,-
(11) Dikirim faktur tagihan kepada pelanggan yang telah menggunakan jasa perusahaan, secara kredit Rp 950.000,-
(15) Dibayar gaji dan komisi Rp 3.700.000,-
(20) Diterima pembayaran dari seorang pelanggan yang telah menggunakan jasa perusahaan, secara kredit Rp 4.500.000,-
(30) Dibayar macam-macam biaya Rp 155.000,-
(30) Dibayar biaya gaji dan komisi Rp 5.000.000,-
(31) Dibayar keperluan pribadi pemilik Rp 2.500.000,-
Penyesuaian yang terjadi pada tanggal 31 Desember 1995 adalah:
1.Perlengkapan kantor yang masih tersisa sampai akhir bulan sebesar Rp 150.000,-
2.Biaya advertensi yang terpakai adalah sebesar 1.900.000,-
3.Biaya depresiasi gedung ditaksir sebesar 10% dari harga perolehan
4.Asuransi dibayar di muka sebesar Rp 750.000,- adalah untuk 6 (enam) bulan terhitung mulai tanggal 1 Oktober 1995.
5.Gaji yang masih harus dibayar hingga akhir Desember 1995 adalah sebesar Rp 250.000,-
Tugas:
1.Masukkan transaksi-transaksi di atas ke dalam Jurnal Umum
2.Buatlah Buku Besar yang diperlukan
3.Buatlah Neraca Saldo Per 31 Desember 1995
4.Buat Jurnal Penyesuaian
5.Buat Neraca Lajur per 31 Desember 1995
6.Buat Laporan Keuangan yang terdiri dari :
Laporan Rugi/Laba
Laporan Perubahan Modal
Neraca
Penyelesaian:
1.Membuat Tabel Perkiraan
a.Aktifkan Sheet1, ubah nama Sheet1 menjadi Tabel Perkiraan, dengan cara didobel klik pada Sheet tulisan Sheet1.
b.Merubah nama Sheet dapat juga dilakukan dengan memilih menu Format -> Sheet -> Rename.
c.Buatlah tabel seperti dibawah ini:
2.Membuat Jurnal Umum
a.Aktifkan Sheet2, ubah nama Sheet2 menjadi Jurnal Umum.
b.Buatlah format lembar kerja seperti ini:
c.Pada Sel Nama Perkiraan (E8 pada gambar) ketikkan =vlookup(
Lalu klik sel Kode (D8 pada gambar), kemudian ketikkan Titik Koma [ ; ], kemudian klik Sheet Tabel Perkiraan, blok Isi Tabel Perkiraan, tekan F4 untuk mengunci tabel sehingga muncul tanda US Dollar [ $ ], lalu ketikkan Titik Koma [ ; ] dan selanjutnya tentukan posisi kolom dari Tabel Perkiraan yang berisi data yang akan kita ambil, yaitu posisi 2.
[Tips!] Tabel Pencarian bisa diberi nama, sehingga bersifat Absolut/Tetap, dengan cara : Blok Tabel yang ingin diberi nama, pilih menu Insert->Name->Define. Sesuai gambar, rumus menjadi =vlookup(d8;tabel;2)
d.Masukkan semua catatan transaksi yang terjadi ke dalam Sheet Jurnal Umum dengan fasilitas Data Form, dengan cara, klik salah satu isi sel Jurnal Umum, pilih menu Data->Form. Sehingga muncul tampilan seperti ini:
Masukkan semua data transaksi ke dalam Data Form, dengan klik tombol New untuk menambah record baru. Jika semua selesai dientri, klik tombol Close.
3.Membuat Buku Besar
Setelah membuat Jurnal Umum, dalam proses Pelaporan Keuangan, langkah selanjutnya adalah membuat Buku Besar untuk mengelompokkan jenis transaksi yang ada sesuai dengan Kode Perkiraan. Langkahnya adalah sebagai berikut:
a.Ubahlah nama-nama Sheet setelah Jurnal Umum. Sheet3 diubah menjadi BB Aktiva Lancar, Sheet4 diubah menjadi BB Aktiva Tetap, Sheet5 diubah menjadi BB Hutang Lancar, Sheet6 menjadi BB Modal, Sheet7 menjadi BB Pendapatan dan Sheet8 menjadi BB Biaya.
b.Aktifkan Sheet BB Aktiva Lancar, buatlah tampilan seperti di bawah ini:
c.Pada sel D4 ketikkan formula: =vlookup(F3;tabel;2) sehingga pada sel D4 muncul kata “Kas”
d.Buku Besar Kas telah selesai anda buat, sekarang untuk mengisi datanya anda harus menggunakan fasilitas Advanced Filter.
e.Pada Buku Besar Kas yang ada di sheet BB Aktiva Lancar, Klik salah satu bagian header Buku Besar Kas, pilih menu Data->Filter->Advanced Filter , bila perlu klik OK.
f.Pada kotak dialog yang muncul, pastikan pilihan Copy to another location diaktifkan. Klik kotak isian List Range, kosongkan isinya, klik sheet Jurnal Umum, blok isi Jurnal Umum beserta sebaris headernya yang terdekat.
g.Pada kotak isian Criteria Range kosongkan isinya bila perlu, data pada kotak isian ini diisi dengan cara mengeblok sel F2 dan F3 sekaligus (berisi kata “Kode” dan Nomor Kode Perkiraan buku besar kas).
h.Kotak isian Copy to, data diisi dengan cara mengeblok sebaris header pada Buku Besar Kas yang berisi Tgl, Bln, Thn, Kode, Perkiraan, Debet, Kredit.
i.Jika selesai klik OK, dan lihatlah hasilnya. Jika penempatan rumus anda benar, maka akan muncul sejumlah transaksi dari Jurnal Umum yang difilter dan dikelompokkan berdasarkan kode perkiraan yang dijadikan kriteria.
j.Lakukan hal yang sama dalam pembuatan Buku Besar lainnya. Sesuaikan Criteria Range, berdasarkan Kode Perkiraan masing-masing buku besar.
k.Selesaikan kolom Saldo Akhir yang ada di tiap Buku Besar.
4.Membuat Neraca Saldo
Dengan selesainya Buku Besar, maka Neraca Saldo dapat dibuat dengan cara:
a.Aktifkan Sheet9, ubah nama Sheet menjadi Neraca Saldo, copy data yang ada di Tabel Perkiraan untuk mendapatkan data semua Kode Perkiraan dan Nama Perkiraan.
b.Masukkan seluruh saldo akhir yang ada di setiap buku besar, ke dalam Neraca Saldo.
5.Membuat Jurnal Penyesuaian
a.Aktifkan Sheet10, ubah nama Sheet menjadi JurnalPenyesuaian. Buatlah tampilan seperti ini:
PT. Budi Luhur
Jurnal Penyesuaian
Per 31 Desember 1995
NO.
SALDO
REK.
KETERANGAN
DEBET
KREDIT
b.Masukkan data penyesuaian yang ada, seperti halnya memasukkan data Jurnal Umum.
6.Membuat Neraca Lajur
Neraca Lajur dibuat karena ada transaksi yang belum dimasukkan di akhir periode misalnya data penyesuaian.
a.Aktifkan Sheet11, ubah nama Sheet menjadi Neraca Lajur. Buatlah tampilan sebagai berikut:
b.Copy data yang ada pada Sheet Neraca Saldo kemudian pindahkan ke Neraca Lajur khususnya pada sel A7
c.Masukkan data pada lajur Penyesuaian -> Debet dengan rumus sebagai berikut:
=sumif(TabelPenyesuian;KodeNeracaLajur;KolomDebetPenyesuaian)
Catatan:
TabelPenyesuaian hanya diblok isinya saja/tanpa header
KodeNeracaLajur pada gambar misalnya sel A7
KolomDebetPenyesuaian adalah hasil blok seluruh nilai yang ada di Kolom Debet pada Jurnal Penyesuaian.
d.Masukkan data pada lajur Penyesuaian -> Kredit dengan rumus sebagai berikut:
=sumif(TabelPenyesuian;KodeNeracaLajur;KolomKreditPenyesuaian)
e.Selesaikan kolom NSPP (Neraca Saldo Setelah Penyesuaian) dengan rumus sebagai berikut:
NSPP Debet:
NSPP Kredit:
f.Gunakan fungsi IF untuk menyelesaikan kolom Rugi/Laba. Karena kode untuk Rugi/Laba memiliki kepala digit 4 (4xxx) sampai dengan digit 5 (5xxx) maka rumus yang digunakan adalah:
DEBET : =IF(kode>=4000;NSPP.Debet;0)
KREDIT : =IF(kode>=4000;NSPP.Kredit;0)
g.Menyelesaikan kolom Neraca Akhir sama dengan cara penyelesaian kolm Rugi/Laba, hanya saja logikanya dibalik dengan rumus sebagai berikut:
DEBET : =IF(kode<4000;NSPP.Debet;0)
KREDIT : =IF(kode<4000;NSPP.Kredit;0)
7.Membuat Laporan Keuangan
a.Aktifkan Sheet12, ubah nama Sheet menjadi RugiLaba
b.Copy data Nomer Rekening dan Keterangan yang ada pada Sheet Neraca Lajur untuk nilai Kode >= 4000, letakkan hasil copy ke Sheet RugiLaba.
c.Untuk data angka, masukkan dengan cara sebagai berikut:
DEBET : =vlookup(Kode;TabelNeracaLajur;KolomNSPPDebet)
KREDIT : =vlookup(Kode;TabelNeracaLajur;KolomNSPPKredit)
Catatan:
TabelNeracaLajur hanya diblok isinya saja, tanpa header
KolomNSPPDebet adalah letak kolom NSPPDebet di Neraca Lajur (kolom ke-n)
KolomNSPPKredit adalah letak kolom NSPPKredit di Neraca Lajur (kolom ke-n)
d.Data angka yang ada di Neraca lajur juga dapat dipindahkan dengan cara sebagai berikut:
Blok data angka Debet dan Kredit di kolom Rugi/Laba untuk Kode >=4000, tekan CTRL-C dan pindahlah ke Sheet RugiLaba letakkan kursor di tempat yang diinginkan, pilih menu Edit->Paste Special dan pada Option Paste, aktifkan pilihan Values, klik OK.
a.Aktifkan Sheet13, ubah nama Sheet menjadi PerubahanModal
b.Untuk Laporan Perubahan Modal, semua kata-katanya diketik sendiri, tetapi untuk angkanya bisa mengambil dari data yang sudah ada.
Contoh: Modal Awal angkanya diambil dari Neraca lajur dengan mengklik angka yang akan dicopy, tekan CTRL-C, dan hasil copy diletakkan dilokasi yang diinginkan. Begitu juga untuk data Prive dan Laba Bersih.
a.Aktifkan Sheet14, ubah nama Sheet menjadi Neraca
b.Untuk Neraca, cara mengambil datanya sama dengan penyusunan Laporan Rugi Laba.
Minggu, 24 Oktober 2010
petani sawit menggunakan ATM
Bank Rakyat Indonesia (BRI) Kanwil Pekanbaru mendorong petani sawit manfaatkan Anjungan Tunai Mandiri (ATM) untuk melakukan transaksi perbankan. Senior Manager Desk of Investor Relations Ninis K. Adriani mengatakan, hal itu dilakukan supaya nasabah bisa lebih efisien, untuk itu pihaknya pun telah mengembangkan beberapa ATM BRI di Pekanbaru.
Langkah itu dilakukan karena selama ini nasabah di unit-unit BRI seringkali harus melakukan antrian panjang dan berjam-jam karena keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM). Selain itu kantor unit biasanya berukuran kecil sedangkan jumlah nasabahnya cukup banyak. "Padahal nasabah itu kan hanya mau transfer ataupun tarik uang. Transaksi semacam itu kan sebenarnya bisa dilakukan melalui ATM tak perlu lewat teller," jelas Ninis.
Pemimpin Cabang Rengat Riau Edison Tampubolon menambahkan, pengadaan ATM di unit yang dibawahinya sudah dimulai beberapa bulan terakhir. "Cabang Rengat membawahi 8 unit dan sudah ada ATM di 5 unit. Ini juga karena adanya permintaan nasabah," ujarnya.
Pembina Koperasi Unit Desa (KUD) Amanah Azis Abdullah yang juga adalah nasabah unit BRI mengatakan, selama ini dia harus melakukan transaksi dengan para petani sawit dalam pembayaran gaji secara cepat. "Tapi karena antrian panjang ya jadi terlambat. Kadang-kadang datang pagi dan baru terlayani siang atau sorenya, makanya kalau ada ATM akan lebih mudah tidak perlu antri panjang," jelas Azis.
Namun, Azis masih mengeluhkan jarak ATM yang masih sangat jauh dari kecamatannya. Untuk itu ia berharap BRI segera membangun kantor di kecamatannya. "Jaraknya cukup jauh dan kami harus melintasi jalanan di tengah kebon sawit yang tidak terlalu ramai. Sangat rawan. Lima tahun lalu kami dirampok dan sampai ada yang tertembak. Kalau ada kantor dekat ini kan bisa mengurangi risiko perampokan," tandasnya.
Bagaimana tidak diincar perampok, setiap bulan Azis dan pengurus KUD lainnya harus menarik uang hingga Rp 31 miliar untuk membayar 4.000 petani yang menjadi anggota KUD. "Sejak peristiwa penembakan itu, sekarang kalau ambil uang musti dikawal hingga 17 anggota keamanan. Dan juga mengasuransikan uang tersebut. Kalau ada aparat sebanyak itu yang menjaga tentu kami harus mengeluarkan biaya tambahan bukan. Tapi kalau ada kantor BRI dekat sini tentu akan banyak efisiensi yang akan kami lakukan," papar Azis.
Edison menambahkan, memperkenalkan ATM pada nasabah seperti petani sawit tidaklah mudah. "Tidak semuanya mengerti manfaat ATM itu apa. Dan memperkenalkan cara transaksinya juga tidak mudah. Untuk itu kami akan semakin sering melakukan sosialisasi pemanfataan dan penggunaan ATM ini ke nasabah di sini," katanya.
Langkah itu dilakukan karena selama ini nasabah di unit-unit BRI seringkali harus melakukan antrian panjang dan berjam-jam karena keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM). Selain itu kantor unit biasanya berukuran kecil sedangkan jumlah nasabahnya cukup banyak. "Padahal nasabah itu kan hanya mau transfer ataupun tarik uang. Transaksi semacam itu kan sebenarnya bisa dilakukan melalui ATM tak perlu lewat teller," jelas Ninis.
Pemimpin Cabang Rengat Riau Edison Tampubolon menambahkan, pengadaan ATM di unit yang dibawahinya sudah dimulai beberapa bulan terakhir. "Cabang Rengat membawahi 8 unit dan sudah ada ATM di 5 unit. Ini juga karena adanya permintaan nasabah," ujarnya.
Pembina Koperasi Unit Desa (KUD) Amanah Azis Abdullah yang juga adalah nasabah unit BRI mengatakan, selama ini dia harus melakukan transaksi dengan para petani sawit dalam pembayaran gaji secara cepat. "Tapi karena antrian panjang ya jadi terlambat. Kadang-kadang datang pagi dan baru terlayani siang atau sorenya, makanya kalau ada ATM akan lebih mudah tidak perlu antri panjang," jelas Azis.
Namun, Azis masih mengeluhkan jarak ATM yang masih sangat jauh dari kecamatannya. Untuk itu ia berharap BRI segera membangun kantor di kecamatannya. "Jaraknya cukup jauh dan kami harus melintasi jalanan di tengah kebon sawit yang tidak terlalu ramai. Sangat rawan. Lima tahun lalu kami dirampok dan sampai ada yang tertembak. Kalau ada kantor dekat ini kan bisa mengurangi risiko perampokan," tandasnya.
Bagaimana tidak diincar perampok, setiap bulan Azis dan pengurus KUD lainnya harus menarik uang hingga Rp 31 miliar untuk membayar 4.000 petani yang menjadi anggota KUD. "Sejak peristiwa penembakan itu, sekarang kalau ambil uang musti dikawal hingga 17 anggota keamanan. Dan juga mengasuransikan uang tersebut. Kalau ada aparat sebanyak itu yang menjaga tentu kami harus mengeluarkan biaya tambahan bukan. Tapi kalau ada kantor BRI dekat sini tentu akan banyak efisiensi yang akan kami lakukan," papar Azis.
Edison menambahkan, memperkenalkan ATM pada nasabah seperti petani sawit tidaklah mudah. "Tidak semuanya mengerti manfaat ATM itu apa. Dan memperkenalkan cara transaksinya juga tidak mudah. Untuk itu kami akan semakin sering melakukan sosialisasi pemanfataan dan penggunaan ATM ini ke nasabah di sini," katanya.
harga kopi dunia melonjak
Tak hanya aromanya yang harum, harga kopi dunia juga kian mengharum, termasuk kopi arabika. Berdasarkan data Bloomberg, harga kopi arabika di Bursa ICE New York untuk pengiriman Desember ada di level 2,01 dollar AS per pound. Kekhawatiran akan minimnya pasokan dari negara produsen akibat adanya cuaca buruk membuat harga kopi terus melambung.
Rodrigo Costa, wakil presiden Badan Perdagangan Newedger USA LCC seperti dikutip Bloomberg Kamis (21/10/2010) mengatakan, cuaca basah di Asia membuat panen dan proses pengolahan biji-bijian menjadi tertunda. Hujan di Amerika Tengah juga menahan suplai kopi keluar dari negara ini.
Analis dari Macquarie Group Ltd Kona Haque menambahkan, setiap ada kabar mengenai penurunan produksi akan membuat harga naik lebih tinggi. "Ini mengingatkan kita pada pasar yang berfluktuasi," katanya.
Data ICE New York mencatat, total stok kopi dunia per 19 oktober 2010 sebanyak 1,84 juta karung atau turun 40 persen ketimbang periode yang sama tahun lalu. catatan saja, satu karung kopi ini setara dengan 132 pound atau 60 kg.
Di bursa New York, harga kopi robusta untuk pengiriman Januari 2011 hingga pekan lalu ada di level 1,910 dollar AS per ton. Harga ini adalah harga tertinggi sejak 14 Oktober 2008.
Kenaikan harga kopi dunia ini tentu saja mengerek harga kopi di dalam negeri. Sekretaris Eksekutif Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Rachim Kartabrata bilang, curah hujan yang tinggi di berbagai belahan dunia, termasuk di sentra produksi kopi dunia seperti Brazil dan Vietnam membuat produks kopi dunia menurun. Akibatnya, harga kopi dunia terus melambung.
Rachim meramalkan, tren kenaikan harga kopi dunia ini masih akan terus berlanjut. Pasalnya, kondisi cuaca buruk diperkirakan masih akan berlanjut. "Selama cuaca masih tidak menentu, harga kopi dunia masih akan tinggi, sebab produksi kopi menurun," ujarnya pekan lalu.
Sebenarnya, kenaikan harga kopi ini menjadi angin segar bagi petani dan produsen kopi di Indonesia. Sebab, "Harga kopi di Indonesia naiknya lebih kuat ketimbang harga kopi dunia," kata Rachim. Asal tahu saja, hingga pekan lalu harga kopi arabika Medan sudah mencapai Rp 31.669 per kg. Sedangkan untuk kopi robusta Lampung, harganya sudah mencapai Rp 12.000 per kg.
Rodrigo Costa, wakil presiden Badan Perdagangan Newedger USA LCC seperti dikutip Bloomberg Kamis (21/10/2010) mengatakan, cuaca basah di Asia membuat panen dan proses pengolahan biji-bijian menjadi tertunda. Hujan di Amerika Tengah juga menahan suplai kopi keluar dari negara ini.
Analis dari Macquarie Group Ltd Kona Haque menambahkan, setiap ada kabar mengenai penurunan produksi akan membuat harga naik lebih tinggi. "Ini mengingatkan kita pada pasar yang berfluktuasi," katanya.
Data ICE New York mencatat, total stok kopi dunia per 19 oktober 2010 sebanyak 1,84 juta karung atau turun 40 persen ketimbang periode yang sama tahun lalu. catatan saja, satu karung kopi ini setara dengan 132 pound atau 60 kg.
Di bursa New York, harga kopi robusta untuk pengiriman Januari 2011 hingga pekan lalu ada di level 1,910 dollar AS per ton. Harga ini adalah harga tertinggi sejak 14 Oktober 2008.
Kenaikan harga kopi dunia ini tentu saja mengerek harga kopi di dalam negeri. Sekretaris Eksekutif Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Rachim Kartabrata bilang, curah hujan yang tinggi di berbagai belahan dunia, termasuk di sentra produksi kopi dunia seperti Brazil dan Vietnam membuat produks kopi dunia menurun. Akibatnya, harga kopi dunia terus melambung.
Rachim meramalkan, tren kenaikan harga kopi dunia ini masih akan terus berlanjut. Pasalnya, kondisi cuaca buruk diperkirakan masih akan berlanjut. "Selama cuaca masih tidak menentu, harga kopi dunia masih akan tinggi, sebab produksi kopi menurun," ujarnya pekan lalu.
Sebenarnya, kenaikan harga kopi ini menjadi angin segar bagi petani dan produsen kopi di Indonesia. Sebab, "Harga kopi di Indonesia naiknya lebih kuat ketimbang harga kopi dunia," kata Rachim. Asal tahu saja, hingga pekan lalu harga kopi arabika Medan sudah mencapai Rp 31.669 per kg. Sedangkan untuk kopi robusta Lampung, harganya sudah mencapai Rp 12.000 per kg.
Langganan:
Postingan (Atom)